
Jakarta – Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah pasca serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu berdampak langsung pada aktivitas logistik perusahaan Indonesia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dikabarkan terjebak di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang saat ini dilaporkan ditutup oleh otoritas Iran .
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pemerintah saat ini sedang mengupayakan langkah diplomasi untuk mengevakuasi kedua kapal tersebut. “Menyangkut dua kapal yang dari Selat Hormuz yang sekarang lagi balik, tadi juga dibahas oleh Pertamina. Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026) .

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario antisipatif jika kedua kapal tersebut tidak dapat segera keluar dari area terdampak. Pemerintah telah mengamankan pasokan minyak mentah dari sumber alternatif di luar kawasan Timur Tengah, termasuk dari Amerika Serikat. Hal ini sejalan dengan nota kesepahaman yang telah diteken Pertamina dengan perusahaan-perusahaan energi AS seperti Chevron dan ExxonMobil . “Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu problem, tapi bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” tegas Bahlil .
PT Pertamina (Persero) sendiri memastikan bahwa kondisi kedua kapal beserta seluruh awaknya dalam keadaan aman. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau situasi secara intensif dan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. “Sampai dengan saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa membantu atau mengamankan aset kami dan kru para awak yang berada di sana,” ungkap Baron di Graha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026) .
Baron merinci bahwa sebenarnya terdapat empat kapal Pertamina yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Dua kapal lainnya, yakni PIS Rinjani yang tengah lego jangkar di Khor Fakkan (Uni Emirat Arab) dan PIS Paragon yang berada di Oman, dilaporkan telah berada di luar Selat Hormuz dan dalam kondisi aman . Adapun dua kapal yang masih berada di area Teluk adalah kapal Gamsunoro yang tengah berada di Khor al Zubair, Irak, dan kapal Pertamina Pride yang sedang melakukan proses muat (loading) di Ras Tanura, Arab Saudi . Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menambahkan bahwa fokus utama perusahaan adalah keselamatan kru dan keamanan kargo. “Tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” katanya .
Meskipun terjadi gangguan di jalur logistik, Pertamina memastikan bahwa ketahanan energi nasional tidak terganggu. Baron menjelaskan bahwa pasokan minyak mentah yang diimpor dari Timur Tengah melalui jalur Selat Hormuz hanya sekitar 19% dari total kebutuhan nasional. “Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun emergency. Jadi untuk ketahanan energi nasional, Pertamina telah menyiapkan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional,” pungkasnya .
Situasi di Selat Hormuz semakin tegang setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan total jalur air tersebut sebagai respons atas serangan yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran . Berdasarkan laporan perusahaan intelijen pasar energi Kpler, lalu lintas kapal tanker minyak di selat strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia itu telah merosot hingga 90% . Beberapa kapal dilaporkan masih ada yang nekat melintas dengan mematikan sistem pelacakan (AIS), namun risiko keamanan tetap sangat tinggi .



