
Ilyas Aji Nugroho tengah mendalangi pagelaran wayang kancil. Doc. Pribadi.
Malam Minggu, 31 Januari 2026, Boyolali tidak hanya dipenuhi udara dingin dan sejuk selepas hujan, tetapi juga hangatnya semangat anak muda yang berkumpul dalam perayaan Ambal Warsa ke-2 Komunitas Sinau Bareng Boyolali. Di antara gelak tawa, obrolan akrab, dan keramaian sederhana, sebuah pertunjukan budaya menjadi pusat perhatian: Wayang Kancil.
Pagelaran itu bukan sekadar hiburan ulang tahun komunitas. Ia hadir sebagai suara, sebagai pesan, sekaligus sebagai pengingat bahwa budaya tradisional masih bisa berbicara lantang tentang persoalan zaman, terutama soal lingkungan yang semakin rapuh.
Wayang malam itu mengusung lakon berjudul “Sumilake Pedhut Gebang Tinatar.” Di baliknya, seorang dalang muda memimpin jalannya cerita: Ilyas Aji Nugroho.
Ilyas bukan nama besar dari panggung nasional, tetapi ia membawa sesuatu yang jauh lebih dekat—kisah anak muda desa yang tumbuh bersama kesenian Jawa. Ia lahir di Klimas, Sendang, Karanggede, Boyolali, dan sejak kecil telah tertarik dengan dunia kesenian.
Kesungguhannya kemudian menemukan jalan ketika ia belajar di Sanggar Padharasa, Salatiga, tempat ia memperdalam seni tradisi, bukan hanya sebagai keterampilan panggung, tetapi juga sebagai cara memahami kehidupan.
Ilyas juga aktif berkegiatan di Komunitas Sinau Bareng Boyolali. Sebuah ruang kolektif anak muda yang tumbuh dari semangat belajar bersama dan bergerak bersama.
Ketua panitia ambal warsa, Tiwi Fadlillatul Azna, mengatakan bahwa komunitas ini memang digerakkan secara gotong royong.
“Sinau Bareng Boyolali ini digerakkan bersama secara kolektif. Pengadaan acara ini juga sebagai wujud kepedulian anak muda menanggapi isu sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Bagi Tiwi dan komunitasnya, ulang tahun bukan hanya soal perayaan, tetapi juga momentum untuk menyampaikan sesuatu yang lebih besar.
Karena itu, wayang dipilih sebagai penampilan utama dan puncak acara.
“Pagelaran wayang dipilih sebagai media edukasi yang menghibur, namun juga sarat akan nilai budaya,” tambahnya.
Namun, yang membuat pagelaran malam itu terasa berbeda bukan hanya karena dalangnya muda atau karena lakonnya unik. Melainkan karena pesan yang dibawanya.
Tokoh utama dalam kisah tersebut adalah Kancil—hewan cerdik yang dalam cerita rakyat sering tampil jenaka. Tetapi malam itu, Kancil hadir dengan keresahan. Ia resah karena alamnya dirusak.
Hutan yang dulu hijau mulai gersang. Lingkungan tempat hidupnya tidak lagi aman. Kerusakan datang bukan dari bencana alam, tetapi dari tangan-tangan yang lupa menjaga keseimbangan.
Melalui cerita sederhana namun kuat, pagelaran Wayang Kancil itu mengajak penonton merenung: bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh, melainkan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di balik humor dan dialog khas wayang, terselip pesan tentang perusakan alam, dan tanggung jawab manusia terhadap bumi.
Tiwi berharap kisah itu tidak berhenti sebagai tontonan semata.
“Ia berharap anak muda bisa menjadi pelaku perubahan, tidak hanya sebagai penonton zaman,” tuturnya.
Malam itu, wayang bukan hanya pertunjukan tradisi. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Antara budaya dan isu sosial. Antara hiburan dan kesadaran.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Komunitas Sinau Bareng Boyolali menunjukkan bahwa anak muda masih bisa menjaga akar budaya sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap alam.
Wayang Kancil pun menjadi lebih dari sekadar cerita binatang. Ia menjadi cermin zaman.
Dan malam itu, di Boyolali, suara Kancil seakan mewakili suara bumi yang sedang resah, menunggu manusia untuk berubah.

Foto bersama sebelum Pagelaran Wayang Kancil dimulai (31/01/2026). Doc. Panitia
Penulis : Anik Meilinda



