
Doc. Google
Oleh: Hendra Jaya
Setiap tahun ada ratusan nama yang diajukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk mendapat gelar pahlawan nasional. Tentu nama-nama yang diajukan dianggap berjasa dalam pembangunan bangsa & negara. Tahun ini, ada salah satu nama kontroversial yang diajukan, SOEHARTO.
Memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto tentu menimbulkan banyak pertanyaan, salah satunya mungkin apa ia pantas mendapat gelar itu? Apa jasanya untuk bangsa dan negara? Bagaimana dengan dosa-dosa Soeharto selama memimpin Indonesia?
Dan bagi saya, Soeharto tak pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional, pernyataannya berikutnya, mengapa Soeharto tak pantas?
Mari kita kembali membaca sejarah, melihat Soeharto dari banyak sisi.
Pertama, jika melihat kejadian pembunuhan massal tahun 1965-1966 yang menewaskan ratusan ribu orang, Petrus 1980, tragedi Tanjung Priok 1984 dan talang sari 1989, siapa dalangnya? Soeharto bukan? Belum lagi konflik Timor Timur, apa pantas seorang pelanggar HAM berat yang tak pernah diadili menjadi Pahlawan Nasional? Apa kedepan mereka yang melakukan pelanggaran HAM, pembunuhan sertai pembantaian massal akan mendapat gelar pahlawan nasional juga?
Kedua, bagaimana dengan uang negara sebanyak US$ 35 miliar yang dikorupsi oleh Soeharto? Apa cerita kolusi dan nepotisme serta monopoli yang dilakukan keluarga cendana tersebut? Apa iya koruptor pantas mendapat gelar pahlawan Nasional? Apa kedepan napi koruptor Timah, BLBI, Pertamina, E-KTP dan lain-lain juga akan diberikan gelar pahlawan nasional?
Mau diapakan negeri ini? Diperuntukkan bagi manusia kejam & korup?
Lalu bagaimana pula nasib demonstran yang dibunuh Soeharto? Bagaimana dengan Soeharto yang belum diadili atas Kekuasaan yang Otoriter dan Militeristik? Bagaimana juga dengan aksi penindasan Soeharto terhadap Intelektual dan Aktivis?
Apakah ditengah ratusan tuntutan itu Soeharto masih berhak mendapat gelar pahlawan nasional? Jika negera masih kekeh dengan pendapatnya, maka kedepan akan banyak lagi lahir Soeharto, toh akhirnya bukan dicap sebagai pendosa, malah akan jadi pahlawan. Bukankah ini angin segar?
Editor : Anik Meilinda



