
KORAN.PENELEH.ORG – Pada Senin (29/05) sore waktu setempat, bangunan asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur ambruk saat para santri sedang melaksanakan salat Asar. Puluhan santri menjadi korban ambruknya bangunan yang masih dalam tahap renovasi itu.
Berdasarkan informasi yang diperoleh tim redaki Koran Peneleh, bangunan itu ambruk sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, ada ratusan santri yang tengah salat ashar berjamaah di lantai 2 bangunan itu
Tak lama setelah ambruk, ekskavator dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo diterjunkan untuk mengevakuasi korban. Hingga saat ini, evakuasi masih berlangsung untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak di reruntuhan bangunan.
Kendati demikian, sudah ada belasan ambulan berlalu-lalang untuk mengevakuasi korban yang berhasil diselamatkan di lokasi kejadian. Sebagian terlihat mengalami luka-luka.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak terlihat berada di lokasi kejadian sejak pukul 17.00 WIB. Emil memantau proses evakuasi. “Evakuasi tidak berhenti sampai para korban selamat,” kata Emil di lokasi.
Emil mengatakan bahwa evakuasi korban dinilai sangat berisiko. Sebab, bangunan asrama itu masih dalam tahap renovasi, sehingga strukturnya tidak stabil. “Ini berisiko karena bangunannya masih tidak,” kata dia. Emil mengatakan bahwa para korban yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun, jumlah korban belum bisa dipastikan.
Sampai malam hari ini, suasana ponpes tersebut masih ramai. Sebagian orang tua korban juga terlihat menangis karena anaknya belum berhasil dievakuasi.
Secara terpisah, Basarnas di Jawa Timur menerima laporan insiden terjadi sekitar pukul 15:35 WIB saat kegiatan pengecoran bangunan tengah berlangsung sejak pagi. “Diduga pondasi tidak kuat sehingga bangunan dari lantai empat runtuh hingga lantai dasar,” ujarnya menjelaskan laporan yang diterima Basarnas.
Terlepas dari situ, Edy memastikan bahwa dalam insiden ini Basarnas akan berusaha secara maksimal untuk menolong santri yang terjebak runtuhan bangunan dengan mengerahkan personel SAR berkemampuan terbaik dibantu tim petugas gabungan lainnya.
Sebagaimana keterangan dari salah satu santri kelas tujuh Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al Khoziny bernama Wahid, bangunan mushalla pondok pesantren tersebut sempat bergoyang sebelum ambruk. (ABK/Red)



