
Sumber: Pinterest
Novan Yudhistira
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah majlis taklim yang menghadirkan salah satu ustadz yang cukup sering viral di media sosial. Beliau bernama Ustadz Rifky Ja’far Thalib. Beliau adalah seorang da’i muda asal Malang yang aktif berdakwah, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Dalam rangkaian safari dakwahnya di Kota Jember, Jawa Timur, saya bersyukur dapat mengikuti salah satu sesi kajian yang beliau bawakan.
Selama kurang lebih 1,5 jam (dimulai selepas salat Subuh sekitar pukul 04.30 hingga pukul 06.00 WIB) saya menyimak ceramah beliau tanpa merasa bosan atau terdistraksi sedikit pun. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Di tengah era digital yang membanjiri kita dengan konten-konten video berdurasi singkat dan cepat konsumsi, kemampuan mempertahankan fokus audiens selama lebih dari satu jam adalah pencapaian yang patut diapresiasi.
Apa yang saya alami saat menyimak Ustadz Rifky menegaskan satu hal penting: mempertahankan perhatian audiens bukanlah sesuatu yang mustahil. Saya sendiri merasa seolah-olah “dihipnotis” untuk tetap fokus mendengarkan hingga akhir. Ini semakin memperkuat keyakinan saya bahwa siapapun bisa menciptakan pengalaman serupa dalam presentasinya asal tahu caranya.
Lalu, apa rahasianya?
Selama menyimak ceramah tersebut, saya menemukan satu kata kunci: novelty, atau kebaruan.
Ustadz Rifky banyak menyampaikan hal-hal yang baru bagi saya. Bahkan jika topik yang dibahas adalah sesuatu yang sudah umum/ biasa/ familiar, beliau menyajikannya dengan pendekatan yang segar dan berbeda. Kebaruan inilah yang membuat otak saya terus aktif dan penasaran dengan apa yang akan beliau sampaikan selanjutnya.
Dalam buku Talk Like TED, Carmine Gallo menyebut bahwa novelty adalah salah satu elemen penting yang membuat presentasi menjadi tidak membosankan. Informasi baru memicu pelepasan dopamin dalam otak, yang pada akhirnya menimbulkan rasa penasaran dan keterlibatan emosional. Otak manusia secara alami menyukai hal-hal yang baru dan berbeda. Itulah sebabnya presentasi yang hanya mengulang-ulang informasi umum cenderung membuat audiens merasa bosan dan kehilangan minat.
Baca Juga tulisan Novan Yudhistira yang lain:
Memenangkan Presentasi Sebelum Presentasi
Dari pengalaman ini, saya membayangkan bahwa jika kita ingin menjaga fokus audiens, kita harus bekerja lebih keras dalam menyiapkan materi presentasi. Kita perlu menghadirkan informasi-informasi baru yang relevan, baik itu berupa hasil penelitian, fakta terkini, berita terbaru, hingga kisah atau pengalaman pribadi yang unik.
Kebaruan tidak akan muncul begitu saja. Kita perlu melakukan riset kecil-kecilan, mengeksplorasi sumber-sumber informasi yang tersedia, dan menyaring mana yang sesuai dengan inti pesan yang ingin kita sampaikan. Proses ini memang membutuhkan waktu dan usaha lebih. Namun dalam dunia presentasi yang kompetitif seperti sekarang, ini bukan lagi pilihan. Ini menjadi sebuah keharusan.



