
Sumber: Pinterest
Novan Yudhistira
(Public Speaking Coach di Ganesha Public Speaking)
Ada sebuah kisah menarik yang pernah dibagikan oleh salah satu klien kami, sebut saja namanya Mas Robert.
Saat itu, Robert akan melakukan presentasi bisnis di hadapan calon klien penting perusahaannya. Presentasi ini bisa dikatakan sebagai momen hidup dan mati. Jika ia berhasil, maka proyek bernilai besar akan diamankan, posisinya di perusahaan tetap terjaga. Namun jika gagal, bukan hanya proyek yang lepas, posisinya pun terancam.
Namun Robert sadar, sekadar presentasi yang “baik” saja tidak cukup. Ia merasa perlu melakukan lebih untuk memenangkan hati klien.
Robert percaya bahwa salah satu kunci kesuksesan presentasinya ada pada upaya membangun relasi dan memahami kebutuhan klien jauh sebelum presentasi dimulai. Ia pun mulai melakukan riset mendalam. Ia menggali informasi tentang perusahaan calon kliennya: siapa orang-orang kuncinya, bagaimana budaya kerjanya, hingga apa minat dan kebiasaan mereka.
Ternyata, hasil riset itu membuahkan kejutan. Robert, yang juga seorang musisi, mengetahui bahwa pimpinan perusahaan calon kliennya memiliki kegemaran yang sama: musik. Dan kebetulan, Robert rutin tampil sebagai pemain band di beberapa kafe di daerahnya.
Beberapa hari sebelum jadwal presentasi, secara tak terduga, Robert tampil di kafe yang sama dengan tempat pimpinan perusahaan tersebut biasa bersantai. Malam itu, sang pimpinan hadir dan menyaksikan penampilan Robert. Bahkan, ia meminta lagu khusus untuk dimainkan oleh band Robert.
Usai pertunjukan, mereka terlibat dalam obrolan hangat. Mereka berbicara panjang lebar, tapi bukan tentang proyek, bukan tentang bisnis, melainkan tentang musik. Ya, hanya music yang mereka obrolkan. Mereka berdua menikmati percakapan tentang hal yang sama-sama mereka cintai.
Pertemuan itu memberikan dampak besar bagi Robert. Pada hari presentasi, Robert tampil jauh lebih percaya diri. Ia merasa sudah “mengenal” audiens utamanya. Ketegangan yang biasanya muncul di awal presentasi berubah menjadi rasa nyaman dan antusias. Fokusnya tidak lagi pada ketakutan akan gagal, tetapi pada penyampaian konten yang bernilai.
Presentasi pun berlangsung sukses. Robert tampil menguasai materi, mampu menjelaskan benefit yang ia tawarkan, ia percaya diri dalam berinteraksi, dan bahkan menyisipkan humor yang tepat. Anda bisa menebak, humor Robert kira-kira tentang apa? Yes, humornya tidak jauh seputar music. Robert pun merasa presentasi tersebut adalah salah satu performa terbaiknya. Dan semuanya berawal dari satu hal: membangun koneksi sebelum presentasi dimulai.
Insight dari Kisah Robert
Banyak pembicara yang terlalu fokus pada teknis presentasi saat tampil, namun melupakan fase penting sebelum presentasi. Padahal, apa yang terjadi sebelum kita berbicara di depan umum seringkali menentukan bagaimana kita merasa dan diterima saat tampil.
Mengenal audiens secara personal, berinteraksi di luar konteks formal, memahami gaya komunikasi dan minat mereka, semua ini akan memperkuat koneksi, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat presentasi terasa lebih natural.
Sebagai pembicara, penting bagi kita untuk tidak hanya mempersiapkan materi dan slide, tetapi juga mempersiapkan hal di luar itu, yaitu relasi/ hubungan.
Karena dalam banyak kasus, kepercayaan itu dibangun bukan di panggung, tapi sebelum kita tampil di atas panggung.



